Home » » Sholat Jum’at Bagi Orang Musafir , Muqim , dan Mustauthin

Sholat Jum’at Bagi Orang Musafir , Muqim , dan Mustauthin

Written By bloger Muslim on Saturday, November 15, 2014 | 5:20 AM

Sebut saja Mas Riko yang sudah tinggal di kos-kosan selama bertahun-tahun, hingga pada suatu saat perasaannya terusik dengan perkataan temannya yang mengatakan bahwa sholat jum’atnya selama ini tidaklah sah, karena sahnya sholat jum’at salah satu syaratnya harus menetap atau muqim, dalam benaknya Mas Riko “aku ini sudah muqim atau belum?.

Mari kita bahas, apa sebenarnya perpedaan antara Musafir, Muqim, dan Mustauthin, dan siapa saja diantara mereka yang wajib melakukan sholat jum’at dan sekaligus bisa mengesahkan sholat jum’at.
    Musafir
      Musafir adalah orang yang tidak ada tujuan bermukim lebih dari empat hari. Golongan ini tidak diwajibkan sholat jum’at dan tidak  bis mengesahkan sholat jum’at.
      Namun sah-sah saja jika ia melaksanakan sholat jum’at bersama penduduk setempat.


      Muqim
      Mukim adalah orang yang mempunyai tujuan bermukim lebih dari empat hari atau bahkan menetap sampai bertahun-tahun, dengan syarat ada niatan untuk kembali ke tanah kelahirannya. Golongan ini wajib melaksanakan sholat jum’at bersama ahli jum’at, akan tetapi keberadaannya tidak bisa mengesahkan sholat jum’at, karean keabsahannya mengikut kepada ahli jum’at (tab’an).

      Mustauthin
      Mustauthin adalah orang yang bertempat tinggal di tanah kelahirannya atau transmigrasi  ditempat lain, serta tidak ada niat untuk kembali ke tanah kelahirannya tersebut. Golongan orang ini wajib mengikuti sholat jum’at dan keberadaannya dapat mengesahkan sholat jum’at.

      Maksud dari ungkapan “dapat mengesahkan aholat jum’at” yaitu sebagaimana kita ketahui bahwa sholat jum’at memiliki syarat wajib dan syarat sah, salah satu dari syarat sahnya sholat jum’at adalah harus terdiri minimal 40 orang laki-laki yang sudah baligh (menurut imam Syafi’i), ini berarti bahwa apabila dalam suatu jama’ah sholat jum’at terdiri dari 38 orang statusnya mustauthin, dan 1 orang yang lain statusnya muqim, dan 1 orang yang lain lagi statusnya musafir. Meskipun secara keseluruhan jumlah jama’ah sholat jum’at ini mencapai 40 orang laki-laki yang sudah baligh, akan tetapi hanya 38 orang yang berstatus mustauthin, dan 2 orang lainnya berstatus muqim dan musafir, maka menurut pendapat ini sholat jum’at tersebut hukumnya tidak sah, karena 2 orang berstatus muqim dan musafir tersebut tidak bisa mengesahkan sholat jum’at.

      Kemudian bagaimana status orang yang mengontrak rumah, semisal di masyarakat kita yang tingkat perekonomiannya menengah kebawah, tidak mempunyai tempat tinggal yang menetap, mereka mengontrak rumah sampai bertahun-tahun bahkan sampai memiliki banyak keturunan di tempat kontrakannya tersebut, apakah mereka bisa dikatakan mustauthin?.

      Mengenai hal ini kita kembalikan masalah diatas, jika mereka yang mengontrak itu mempunyai niatan untuk kembali ke tempat asalnya, walaupun bermuqim sampai bertahun-tahun, maka masih tergolong orang yang  muqim. Namun apabila tidak ada niatan untuk kembali ke tempat asalnya maka dikategorikan mustauthin.

      Keterangan di ambil dari kitab Qurrotul ‘Ain Bi Fatawa Isma’il Az Zain hal. 81; dan Kitab Hasyiyah Al Jumal juz awwal hal. 385;

      Demikian artikel tentang Perbedaan Musafir, Muqim, dan Mustauthin Kaitannya dengan Mengerjakan Sholat Jum’at mudah-mudahan barokah. Amin.
      Share this article :

      0 comments:

      Post a Comment

      Popular Posts

       
      Support : Privacy Policy | Disclaimer
      Copyright © 2013. kajian islam - All Rights Reserved
      Proudly powered by Blogger