Home » » Sejarah Burdah

Sejarah Burdah

Written By telaah santri on Thursday, May 14, 2015 | 11:24 PM

Sejarah Qasidah Burdah

Kalangan kritik sastra sepakat bahwa kumpulan syair Burdah oleh al Busiri ini dipandang yang terindah sebagai puisi puji-pujian kepada Nabi dalam bahasa Arab, dan penyairnya diakui sebagai perintis bentuk ini, sekalipun tak berarti bahwa sebelum itu tak pernah ada syair madah. Sebelum Busiri nama-nama Hassan bin Sabit, sahabat dan sekretaris Nabi, Ka'b bin Zuhair dan al-A'sya Qais (w. 629 M), pada masa Nabi sudah dikenal, kendati A'sya sendiri tak sampai masuk Islam. Dalam sastra Arab syair-syair bentuk ini kemudian dikenal dengan nama Madah Nabawi .

Dalam sejarah kepenyairan ini kita lihat juga suatu tradisi yang terasa agak unik, mengolah puisi lama yang secara bertangga digubah kembali oleh penyair dari penyair yang lain. Dan ini berlanjut sampai waktu-waktu belakangan ini. Kendati tak ada hubungannya dengan Burdah, penyair terkemuka Mesir, al-Barudi (Mahmud Sami' (1840-1904/1274-1340 H), juga membuat puisi panjang, Kasyful Gummah tentang Rasul, dari lahir sampai wafatnya. Karya ini lebih menyerupai Sirah (biografi) yang disusun secara kronologis dalam bentuk puisi dengan bahasa yang lebih sederhana. Setelah itu Ahmad Syauqi (1868-1932/1284-1350 H.), penyair besar Mesir juga menulis puisi maulid, Nahjul Burdah. Puisi ini kemudian dijadikan lirik musik oleh seorang komponis kenamaan di Mesir dan dinyanyikan oleh Umi Kulsum yang tersohor itu, dengan judul Wulidal Huda Ketiga penyair itu menggunakan matra yang sama, yakni Mimiyah -akhiran mim. Sudah tentu ini diilhami oleh syair al-Burdah yang dalam gilirannya puisi ini pun berpangkal pada penyair Ka'b bin Zuhair (w. 662 M/40 H.)

Ka'b ini sangat memusuhi Nabi dan dengan syair syairnya ia memaki dan mengejek Nabi sehingga sangat melukai perasaannya, bahkan penyair ini berusaha hendak membunuhnya. Seperti biasa, penyair-penyair di sekitar Nabi juga membalas syair-syair mereka itu dengan syair pula, sehingga terjadi perang puisi, yang dalam tradisi syair-syair Arab disebut hija', syair sindiran dan ejekan.

Ketika kota Mekah kemudian dibebaskan oleh kaum Muslimin di bawah pimpinan Nabi Muhammad saw., kaum musyrik yang tadinya begitu keras memusuhinya dengan segala cara, sekarang dalam ketakutan. Mereka yakin, pasti mereka dijatuhi hukuman mati, sesuai dengan hukum perang dan kejahatan yang mereka lakukan terhadap Nabi dan Kaum muslimin. Sebagian ada yang sempat melarikan diri, termasuk penyair Ka'b bin Zuhair ini, bahkan ada yang sudah siap menyeberangi lautan. Tetapi ketakutan mereka rupanya tak beralasan, karena ternyata Nabi memaafkan mereka semua. Melihat keadaan demikian, Bujair, saudara sang penyair yang memang sudah menjadi pengikut Muhammad, cepat-cepat menghubungi saudaranya itu dan memintanya segera kembali ke Mekah menemui Nabi. Kembali ke Mekah mula-mula Ka'b menemui Abu Bakar, yang kemudian mengantarkannya kepada Nabi. Setelah bertemu secara pribadi, melihat sikap Nabi Muhammad SAW, yang begitu lemah-lembut dan menerimanya dengan ramah serta memaafkan segala kesalahannya terhadap dirinya selama itu, hati dan perasaanya tergetar. Terharu sekali dia, tiba-tiba syairnya mengalir begitu lancar dan spontan. Secara improvisasi penyair ini membaca serangkaian puisi yang mengharukan sekali, menyatakan kekagumannya menghadapi sikap dan perangai Nabi Muhammad SAW. Nabi tidak saja memaafkannya, malah memberikan burdah (mantel) yang dipakainya kepada Ka'b.

Syarafuddin Abu Abdullah Muhammad bin Sa'id al Busiri (1213-1297/608-696 H.) penyair Sufi asal Barbar di Afrika Utara, lahir di Mesir. Menurut cerita yang sangat disenangi oleh kalangan awam, berdasarkan cerita Busiri sendiri, konon ketika ia sedang menderita kelumpuhan akibat stroke dalam mimpinya ia bertemu dengan Rasulullah dan Nabi memberikan mantel (burdah) itu kepadanya, seperti yang dulu diberikan kepada Ka'b. Ia terkejut dan terlompat dari tidurnya, sehingga lumpuhnya tidak terasa lagi. Begitu bangun ia merasa terharu sekali, lalu menulis puisinya yang dikenal dengan judul al-kawakib ad-Durriyah. ("Bintang-bintang Gemerlapan"), berisi puji-pujian kepada Nabi. Karena ada hubungannya lengan itulah maka puisi ini kemudian lebih dikenal dengan nama al-Burdah atau Puisi Burdah . Sebelum itu penyair Sufi yang idupnya sangat sederhana ini memang sudah dikenal sebagai ulama Sufi yang mendalami hadis, ahli khat yang lahir dan sudah menulis beberapa kumpulan puisi, tetapi namanya baru terkenal luas sesudah karya tersebut.

Kata burdah sebenarnya berarti mantel dari wol yang dapat dipakai sebagai jubah di waktu siang dan dipakai selimut malam hari. Dalam bahasa aslinya yang terdiri dari 160 bait dalam bentuk matra basit syair Burdah ini memang hidup, indah dan iramanya beralun lembut, dibaca pada setiap acara keagamaan, pada setiap bulan Maulid, dalam upacara perkawinan dan di kuburan, biasanya dibaca bersama-sama. Itu sebabnya barangkali, sebagian masyarakat Islam ada yang mengagungkannya sampai berlebihan. Dari segi kritik sastra puisi-puisinya memang berbobot dan banyak mengundang berbagai anggapan, mendapat tempat sebagai karya estetik yang memikat, sehingga banyak dihafal orang, diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa di Timur: Turki, Persia, Urdu, Pashto, Swahili, Melayu dan Indonesia, juga ke dalam becerapa bahasa di Barat. Mula-mula diterbitkan di Leiden berikut terjemahan Latinnya. Carmen Mysticum Borda Dictum, kemudian dalam bahasa Jerman, Inggris, Itali dan Prancis.

Sungguhpun begitu, di mata kalangan kritikus sastra karya ini tak berarti sudah tanpa kekurangan. Menurut mereka, dari segi kritik sastra dan bahasa masih terlihat ada beberapa titik kelemahannya.

Bagaimanapun juga Busiri telah banyak mengilhami penyair-penyair lain sesudahnya, termasuk tentunya syair Maulid Nabi oleh Ja'far al-Barzanji (w. 1763/1177 .), khatib dan imam Masjid Nabawi di Medinah. Barzanji terkenal karena kumpulan syairnya itu sehingga yang kemudian disebut hanya nama penyairnya, Barzanji, bukan judul karyanya. Seperti Burdah, dalam masyarakat tertentu, juga di Indonesia, Barzanji sangat dimuliakan, dibaca bersama-sama dalam acara-acara keagamaan, kedua buku ini sudah diterbitkan terjemahannya dalam berbagai bahasa.

Tetapi dalam sejarah sastra Islam di luar bahasa Arab, sebelum dan sesudah Busiri, syair-syair puji-pujian kepada Nabi tak banyak dikenal. Kalangan Orientalis sendiri kecuali barangkali Nicholson dan Arberry, dan belakangan ini barangkali Annemarie Schimmel dari segi lain agaknya tidak banyak membicarakan penyair-penyair yang secara khusus menghasilkan puisi-puisi demikian.  Dalam bahasa-bahasa Persia, Turki atau Urdu sebenarnya banyak juga syair puji-pujian kepada Nabi itu, dikenal rngan sebutan syair-syair Na't dan umumnya ditulis oleh penyair-penyair Sufi terkemuka seperti Khaqani (Afdaluddin Ibrahim), Sanai, Nizami, Attar, Sa'di, Rumi, Jami dan beberapa lagi yang lain yang kurang begitu terkenal.

Demikian juga di Turki. Dalam abad ke-16 penyair Turki Khaqani (Muhammad Bek) menulis puisi-puisi pujian kepada Nabi, Hilyah Syarifah atau dalam bahasa Arab al-Hilyah an-Nabawiyah. Syair ini telah membuat namanya begitu tinggi seperti yang diperoleh Maulid Syarifah oleh penyair besar Sulaiman Chelebi sebelumnya.

Kemudian beberapa nama penyair Indo-Pakistan kita Kenal juga nama-nama yang pernah menulis puisi-puisi madah kepada Rasulullah, dari Amir Kusraw, Galib sampai kepada Muhammad Iqbal dalam abad kita ini, kendati tidak semua dalam bentuk yang khusus.

Demikian uraian tentang Sejarah Burdah dari Generasi ke generasi , semoga bermanfaat. Amiin.
Share this article :

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

 
Support : Privacy Policy | Disclaimer
Copyright © 2013. kajian islam - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger