Home » » Penyebaran Periwayatan Hadits

Penyebaran Periwayatan Hadits

Written By telaah santri on Wednesday, May 20, 2015 | 9:36 AM

Penyebaran Periwayatan Hadits

Setelah Nabi SAW wafat, yakni dalam periode Sahabat , para Sahabat tidak lagi mengurung diri di Madinah. Mereka telah mulai menyebar ke kota-kota lain selain Madinah. Intensitas penyebaran Sahabat ke daerah-daerah ini terlihat begitu besar terutama pada masa kekhalifahan 'Utsman ibn 'Affan, yang memberikan kelonggaran kepada para Sahabat untuk meninggalkan kota Madinah. Wilayah kekuasaan Islam pada periode 'Utsman telah meliputi seluruh jazirah Arabia, wilayah Syam (Palestina, Yordania, Siria, dan Libanon), seluruh kawasan Irak, Mesir, Persia, dan kawasan Samarkand.

Pada umumnya, ketika terjadi perluasan daerah Islam, para Sahabat mendirikan masjid-masjid di daerah-daerah baru itu; dan di tempat-tempat yang baru itu sebagian dari mereka menyebarkan ajaran Islam dengan jalan mengajarkan Al-Qur'an dan Hadits Nabi SAW kepada penduduk setempat. Dengan tersebarnya para Sahabat ke daerah-daerah disertai dengan semangat menyebarkan ajaran Islam, maka tersebar pulalah Hadits-Hadits Nabi SAW.

Sejalan dengan kondisi di atas, dan dengan adanya tuntutan untuk mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat yang baru memeluk agama Islam, maka Khalifah 'Utsman ibn 'Affan, dan demikian juga Ali ibn Abi Thalib, mulai memberikan kelonggaran dalam periwayatan Hadits. Akibatnya, para Sahabat pun mulai mengeluarkan khazanah dan koleksi Hadits yang selama ini mereka miliki, baik dalam bentuk hafalan maupun tulisan. Mereka saling memberi dan menerima Hadits antara satu dengan yang lainnya, sehingga terjadilah apa yang disebut dengan iktsar rituayah al-Hadits (peningkatan kuantitas periwayatan Hadits). Keadaan yang demikian semakin menarik perhatian para penduduk di daerah setempat untuk datang menemui para Sahabat yang berdomisili di kota mereka masing- masing untuk mempelajari Al-Qur'an dan Hadits, dan mereka inilah yang kemudian dikenal sebagai generasi Tabi'in yang berperan dalam menyebarluaskan Hadits pada periode berikutnya.

Di antara kota-kota yang banyak terdapat para Sahabat dan aktivitas periwayatan Hadits adalah:

1. Madinah
Di kota Madinah ini terdapat para Sahabat yang mempunyai ilmu yang luas dan mendalam tentang Hadits, diantaranya Khulafa' al-Rasyidin yang empat, 'A'isyah r.a., 'Abd Allah ibn 'Umar, Abu Sa'id al-Khudri, Zaid ibn Tsabit dan lainnya.( Khudhari Bek, Tarikh Tasyri' al-lslami (Kairo: Dar al-Fikr, 1967), h. 110) Di kota ini pula lahir beberapa nama besar dari kalangan Tabi'in, seperti Sa'id ibn Musayyab, TJrwah ibn Zubair, Ibn al-Syihab al-Zuhri, Ubaidillah ibn Utbah ibn Mas'ud, Salim ibn 'Abd Allah ibn 'Umar, Qasim ibn Muhammad ibn Abu Bakar, dan Nafi' Maula ibn Umar.( 'Ajjaj al-Khathib, al-Sunnah qabl al-Tadwin, h. 16)

2. Mekah
Selain di Madinah, periwayatan Hadits juga berkembang di kota-kota lain, seperti di Kota Mekah . Setelah kota Mekah ditaklukkan pada masa Rasul SAW, di sana ditunjuk Mu'adz ibn Jabal sebagai guru yang mengajari para penduduk setempat tentang masalah halal dan haram, dan memperkenalkan serta memperdalam pengetahuan mereka mengenai ajaran Islam dan sumber-sumbernya, yaitu Al- Qur'an dan Hadits. Peranan kota Mekah dalam hal penyebaran Hadits pada masa-masa selanjutnya adalah sangat signifikan, terutama pada musim-musim haji, suatu momentum di mana sebagian besar para Sahabat dapat saling bertemu antarsesamanya dan juga dengan para Tabi'in, dan mereka saling tukar-menukar Hadits yang mereka miliki, yang selanjutnya mereka bawa pulang ke daerah masing-masing. Di kota Mekah ini muncul para Ulama Hadits, seperti Mujahid, 'Atha' ibn Abi Rabah, Thawus ibn Kisan Ikrimah maula ibn Abbas, dan lain-lain.

3. Kufah
Setelah Irak ditaklukkan pada masa Khalifah Umar ibn al-Khaththab, di kota Kufah tinggal sejumlah besar Sahabat, di antaranya 'Ali ibn Abi Thalib, Sa'ad ibn Abi Waqqash, Sa'id ibn Zaid ibn 'Amr ibn Nufail, 'Abd Allah ibn Mas'ud, dan lain-lain. Ibn Mas'ud mempunyai peranan yang penting dalam penyebaran ajaran Islam, termasuk Hadits, di Kufah dan daerah sekitarnya. Ibn Qayyim menyebutkan bahwa penduduk Kufah khususnya dan Irak secara umum¬nya mendapatkan ilmu dari murid-murid Ibn Mas'ud. Terdapat sejumlah 60 orang murid Ibn Mas'ud di Kufah yang berperan dalam penyebaran Hadits. Di antara mereka adalah Kamil ibn Zaid al-Nakha'i, 'Amir ibn Syurahil al- Syafii, Sa'id ibn Jubair al-Asadi, Ibrahim al-Nakha'i, dan lain-lain.

4. Basrah
Di kota Basrah terdapat sejumlah Sahabat, seperti Anas ibn Malik yang dikenal sebagai Imam fi al-Hadits di Basrah, Abu Musa al-Asy'ari, 'Abd Allah ibn Abbas, dan lain-lain. Para Sahabat tersebut melahirkan tokoh-tokoh terkenal dari kalangan Tabi'in, seperti Al-Hasan al-Bashri dan Muhammad ibn Sirin.

Di kota-kota lain, seperti Syam, Mesir, Yaman, Khurasan, juga terdapat sejumlah Sahabat yang aktif mengajar dan menyebarkan Hadits-Hadits Nabi SAW, yang pada tahapan selanjutnya melahirkan tokoh-tokoh Hadits dari kalangan Tabi'in yang berperan dalam penyebaran Hadits.(Ajjaj al-Khathib, Al-Sunnah Qabl al-Tadwin, h. 167)

Periwayatan Hadits pada masa Tabi'in umumnya masih bersifat dari mulut ke mulut (al-musyafahat), seperti seorang murid langsung memperoleh Hadits-Hadits dari sejumlah guru dan mendengarkan langsung dari penuturan mereka, dan selanjutnya disimpan melalui hafalan mereka. Perbedaannya dengan periode sebelumnya adalah, bahwa pada masa ini periwayatan Hadits sudah semakin meluas dan banyak sehingga dikenal istilah iktsar al-riwayah (pembanyakan riwayat). Dan, bahkan pada masa ini pulalah dikenal tokoh-tokoh Sahabat yang bergelar al-muktsirin (yang banyak memiliki Hadits) dalam bidang Hadits yang terdiri atas 7 orang dan di antaranya yang terbanyak adalah Abu Hurairah.( Ajjaj al-Khathib, Ushul al-Hadits. h. 404-405) Pada masa Tabi'in ini mulai dikenal pula apa yang disebut dengan rihlah, yaitu perjalanan yang dilakukan oleh seseorang dari satu kota ke kota lain dalam rangka mencari Hadits-Hadits yang diduga dimiliki oleh Sahabat yang bertempat tinggal di kota lain tersebut. Tradisi rihlah untuk mendapatkan Hadits sebenarnya telah meng¬akar pada Sahabat sejak zaman Rasul SAW. Namun, pada masa itu rihlah lebih bersifat umum untuk tujuan mencari informasi ajaran Islam yang dinilai "baru". Umpamanya, diriwayatkan bahwa Dhamam ibn Tsa'labah pernah melakukan rihlah ke hadapan Nabi SAW guna mendengarkan Al-Qur'an dan ajaran Islam yang dibawa beliau sesaat setelah ia mengetahui adanya misi kerasulan Muhammad SAW. Dhamam kemudian kembali ke kaumnya segera setelah secara tulus menyatakan keislaman dirinya.( Ajjaj al-Khathib, Ushul al-Hadits h. 129)

Pada masa Sahabat, Tabi'in, dan Tabi'i al-Tabi'in tradisi rihlah semakin berkembang dan terarah kepada kegiatan mencari dan mendapatkan Hadits secara khusus. Banyak di antara mereka yang menempuh perjalanan panjang dan melelahkan serta memakan waktu yang cukup lama untuk tujuan mendengarkan suatu Hadits atau mencek validitas Hadits tersebut, atau karena ingin bertemu dan bersilaturahmi dengan Sahabat untuk selanjutnya mendapatkan Hadits dari mereka. Yang terakhir ini umumnya dilakukan oleh para Tabiin. Dengan cara demikian, terjadilah pertukaran riwayat antara satu kota dengan kota yang lain.

Demikian uraian tentang penyebaran periwayatan hadits mudah-mudahan bermanfaat. Amiin.
Share this article :

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

 
Support : Privacy Policy | Disclaimer
Copyright © 2013. kajian islam - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger